JAKARTA, AW-Kalah dari PSG di final Liga Champions memberi Arsenal pelajaran berharga. Sang juara Liga Primer bakal kesulitan merebut gelar juara Liga Champions jika hanya mengandalkan gaya bermain pragmatis. Perkembangan sepakbola modern kini lebih menitikberatkan pada efektivitas skema menyerang ketimbang bertahan.
Italia pernah mengusung gaya bertahan. Tapi, gaya ini sudah lama ditinggalkan karena terbukti tidak kompetitif di era sepakbola modern. Italia terakhir menjadi juara dunia pada 2006 silam dan kini sudah tiga kali gagal lolos ke putaran final Piala Dunia. Inter dengan skema pragmatis yang diusung Jose Mourinho memang sukses meraih treble pada 2010 silam.
Tapi, gaya itu kian ditinggalkan klub-klub Serie A. Juventus yang masih menerapkan gaya serupa terbukti gagal lolos ke Liga Champions. Bianconeri kalah dari Como, tim anak bawang besutan Cesc Fabregas, sukses menembus Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub berkat skema menyerang cantik yang enak ditonton.
Manajer The Gunners, Mikel Arteta bisa mencontoh gaya bermain menyerang Manchester City racikan Pep Guardiola dan Liverpool di era Juergen Klopp. Keduanya berhasil menjadi juara Liga Champions dengan menerapkan gaya menyerang dari kedua sayap maupun lapangan tengah. Inilah yang harus menjadi perhatian Arteta musim depan.
Semoga Meriam London tak lagi hanya parker di belakang, tetap juga merangsek ke depan, mengobrak-abrik pertahanan lawan. Arteta mesti memiliki satu playmaker sebagai roh permainan The Gunners. Dialah yang akan mulai mengkreasi serangan dari belakang atau lini kedua dengan umpan terukurnya ke sayap ataupun lapangan tengah.
