JAKARTA, AWâProgram konservasi terumbu karang di Bali, Indonesia Coral Reef Garden (ICRG), berhasil menyerap lebih dari 10 ribu tenaga kerja. Agenda ICRG telah merestorasi sekitar 72 hektare (ha) terumbu karang di lima kabupaten/kota di Bali dengan melibatkan sekitar 11.250 tenaga kerja. Langkah tersebut juga telah mendorong tumbuhnya wisata bahari dan usaha berbasis sumber daya kelautan di sekitar lokasi ICRG.
Program konservasi laut dengan melibatkan masyarakat yang dijalankan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di lima kabupaten/kota di Bali itu mendapat dukungan dari Komisi IV DPR RI. Program itu dinilai tidak hanya berdampak untuk perbaikan ekosistem terumbu karang, tapi juga menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Program ICRG telah merestorasi sekitar 72 ha terumbu karang di lima kabupaten/kota di Bali dengan melibatkan sekitar 11.250 tenaga kerja.
Pada 17 Juli 2026, Dirjen Pengelolaan Kelautan KKP Koswara mendampingi Komisi IV DPR RI meninjau pengelolaan ekosistem laut di Pantai Mengiat, Nusa Dua, Bali. Kunjungan tersebut juga dihadiri Badan Karantina Indonesia, para pelaku usaha, dan kelompok masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan kawasan konservasi.
Di acara itu, Koswara mengatakan, restorasi terumbu karang, wisata bahari berbasis masyarakat, dan pengembangan produk kelautan bernilai tambah harus berjalan beriringan. “Dengan begitu, konservasi tidak hanya menjaga kelestarian ekosistem laut, tetapi juga menciptakan peluang usaha, lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujar Koswara dalam publikasi yang dikutip Kamis (23/07/2026).
Sedangkan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Panggah Susanto, saat meninjau pengelolaan ekosistem laut di Pantai Mengiat, Nusa Dua, mengatakan, konservasi terumbu karang harus menjadi prioritas pemerintah agar wilayah pesisir memberi manfaat. “Konservasi, pemeliharaan ekosistem laut, dan dukungan anggaran harus menjadi prioritas agar potensi pesisir benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Panggah.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali Putu Sumardiana menyampaikan, pengelolaan laut di Bali sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Visi itu menempatkan laut sebagai sumber kehidupan, budaya, dan ekonomi masyarakat, serta pengembangan produk unggulan seperti garam khas Bali menjadi langkah penting dalam menjaga kelestarian laut sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
Di sisi lain, perwakilan Koperasi Yasa Segara berharap kolaborasi pemerintah dan DPR dapat memperkuat kapasitas koperasi, usaha nelayan, dan wisata bahari berbasis masyarakat melalui dukungan sarana, pelatihan, serta akses pembiayaan. Penguatan kelembagaan masyarakat menjadi kunci agar manfaat pembangunan sektor kelautan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat pesisir.
