JAKARTA, AW-Inter tengah merayakan gelar Scudetto usai mengalahkan Parma di Giuseppe Meazza. Namun, para fans meminta Lautaro Martinez cs tak lama-lama hanyut dalam euforia juara Seri A. Lazio sudah menunggu di final Coppa Italia, 13 Mei mendatang. Dua trofi akan sangat berarti untuk Interisti. Impian meraih treble seperti msim 2009-10 silam harus pupus setelah Inter tersingkir di babak playoff, kalah agregat 2-5 dari Bodo/Glimt.
Manajer anyar, Cristian Chivu tahu betul impian para fans. Ia pun ingin mempersembahkan dua gelar di musim perdananya mengasuh Nerazzurri. Pengalamannya sebagai pemain saat meraih treble di bawah asuhan allenatore Jose Mourinho membuatnya lebih fleksibel dari segi taktik. Si Ular lebih stabil saat menyerang maupun bertahan. Ia juga jeli melihat lini perlini yang harus dibenahi saat timnya tengah kesulitan.

Sukses Inter bangkit dari ketertinggalan dan meraih kemenangan atas Como adalah bukti nyata kejelian Chivu. Tim promosi, Como, tampil ciamik di bawah asuhan Cesc Fabregas, jebolan Akademi La Masia milik Barcelona. Tim milik pengusaha asal Indonesia itu viral karena mempertontonkan skema menyerang dan bertahan sama baiknya. Inilah kunci sukses Como menembus lima besar di musim debutnya di Serie A.
Tapi, Lazio bukanlah Como. Anak asuh Maurizio Sarri ini memang masih tercecer di peringkat 10 klasemen Serie A. Tapi, Si Elang kerap tampil mengejutkan seperti saat mereka mengalahkan AC Milan di babak 16 Coppa Italia dan menaklukkan Juventus 1-0 di Olimpico, Oktober 2025 lalu. Mereka bahkan pernah menahan imbang Como hanya dengan 10 orang pemain sejak menit ke-58. Kuncinya adalah di Sarri, allenatore gaek yang kenyang melatih banyak klub di Italia.
