Kerugian lintas sektor mencatat total kerugian Rp 352.452.000. Istilah ini mencakup berbagai aspek, seperti dampak terhadap tata kelola pemerintahan, lingkungan, dan lainnya dalam penanganan bencana. “Dengan total nilai kerusakan dan kerugian yang hampir mencapai Rp 1,7 triliun, banjir Jabodetabek 2025 menjadi salah satu bencana dengan dampak ekonomi dan sosial yang besar,” jelas Muhari.
Segera Pulih
Keterangan BNPB juga menyebutkan, sebagai bagian dari upaya mitigasi, BNPB telah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengendalikan intensitas hujan di wilayah terdampak. BNPB juga telah memberikan bantuan berupa dana operasional serta bantuan logistik dan peralatan Rp 8.225.706.356 kepada pihak-pihak terkait dalam penanganan bencana.
Saat ini, upaya rehabilitasi dan rekonstruksi sedang berlangsung untuk memulihkan kondisi infrastruktur dan permukiman yang terdampak. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto telah mengecek langsung proses pembangunan dua jembatan bailey di Kabupaten Bogor pada 12 Maret 2025 dan di Desa Jogjogan.
Sementara itu, jembatan di Desa Tugu Utara telah mencapai progres 60% dan diperkirakan segera rampung dalam waktu dekat. Selain itu, guna mengantisipasi potensi pergerakan tanah, pemerintah akan merelokasi 428 unit rumah di Desa Bojong Koneng, Cijayanti, dan Karang Tengah ke Sentul City. Sementara itu, sembilan unit rumah di Kampung Pensiunan akan dipindahkan ke wilayah Cisarua untuk memastikan keamanan hunian bagi warga terdampak.
Sebagai langkah strategis dalam mempercepat pemulihan dan mendukung kelancaran arus mudik Lebaran, BNPB dengan dukungan kementerian/lembaga terkait telah melaksanakan Operasi Manajemen Krisis (OMK) di wilayah Jabodetabek sejak 4-20 Maret 2025.
Pada akhir Maret 2025, kegiatan OMC akan dilanjutkan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. BNPB terus berkoordinasi dengan berbagai pihak guna memastikan percepatan pemulihan dan kesiapan menghadapi potensi bencana serupa di masa mendatang.
Halaman: