JAKARTA, AW–Fasilitas hilirisasi sawit yang akan dibangun PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo alias PalmCo di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatra Utara (Sumut), ditargetkan mampu menyerap 2,7 juta ton tandan buah segar (TBS) atau setara 567 ribu ton CPO (minyak sawit mentah/crude palm oil) per tahun pada 2030 mendatang. PalmCo bersiap memulai pembangunana (groundbreaking) fasilitas hilirisasi sawit terbaru tersebut usai Lebaran 2026 ini.

Direktur Utama PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan, PalmCo mempercepat langkah hilirisasi industri sawit nasional usai libur Lebaran 2026. Subholding PTPN III (Persero) itu bersiap memulai groundbreaking fasilitas pengolahan sawit terpadu di KEK Sei Mangkei itu.

Rencana pembangunan tersebut merupakan bagian dari arah strategis perusahaan yang sejalan dengan kebijakan hilirisasi nasional, termasuk arahan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). “Program ini menjadi bagian dari ekosistem hilirisasi yang lebih luas, tidak hanya di sektor sawit, tetapi juga berbarengan lintas sektor sebagaimana diarahkan Danantara,” kata Jatmiko dalam publikasi yang dikutip Rabu (25/03/2026).

Meski demikian, Jatmiko menegaskan, waktu pelaksanaan groundbreaking masih menunggu keputusan pemegang saham dan kegiatan tersebut dapat dilakukan dalam waktu dekat, setelah periode Lebaran. “Secara kesiapan kami sudah matang. Tinggal menunggu keputusan pemegang saham, dan kami estimasikan bisa dilakukan pasca-Lebaran ini,” kata dia.

Kini, PalmCo menggeser fokus bisnis dari sekadar produksi dan ekspor CPO menjadi pengembangan produk turunan bernilai tambah tinggi. Contoh, pengolahan TBS menjadi produk lanjutan seperti Bio Propylene Glycol (BioPG) yang mampu signifikan meningkatkan nilai ekonomi. “Nilai tambah dari hilirisasi ini bisa meningkat hingga belasan kali lipat. Ini yang menjadi dorongan utama kami,” ujar dia.

Fasilitas hilirisasi sawit di Sumut itu terdiri atas tiga pabrik pangan dan industri. Dalam tahap awal pengembangan, PalmCo akan membangun sejumlah fasilitas utama yang ditargetkan beroperasi bertahap mulai akhir 2028. Fasilitas itu mencakup pabrik margarin dan shortening dengan kapasitas sekitar 40 ribu ton per tahun, serta pabrik Cocoa Butter Equivalent (CBE) dan Cocoa Butter Substitute (CBS) berkapasitas sekitar 34 ribu ton per tahun.

PalmCo juga akan mengembangkan fasilitas pengolahan lanjutan lainnya untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global produk berbasis sawit. Adapun pembangunan pabrik biodiesel dengan kapasitas sekitar 450 ribu ton per tahun juga akan menjadi bagian dari pengembangan berikutnya, terutama untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Serap Ribuan Tenaga Kerja

Proyek hilirisasi minyak sawit itu diproyeksi mampu memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk dalam hal penyerapan tenaga kerja. Pada fase konstruksi hingga operasional penuh, PalmCo memperkirakan total tenaga kerja yang terserap mencapai sekitar 2.900 orang. “Ini bukan hanya proyek industri, tetapi juga upaya menggerakkan ekonomi daerah dan menciptakan pertumbuhan yang lebih merata,” kata Jatmiko. Selain penyerapan tenaga kerja langsung, keberadaan kawasan industri ini juga dipercaya dapat memicu efek berganda bagi sektor ekonomi lainnya, seperti logistik dan usaha kecil menengah di sekitar kawasan.

Di sisi hulu, kehadiran fasilitas hilirisasi ini diharapkan memberikan kepastian pasar bagi petani sawit rakyat. PalmCo memproyeksikan, pada 2030, fasilitas tersebut mampu menyerap hingga 2,7 juta ton TBS per tahun, atau setara sekitar 567 ribu ton CPO. “Dengan hilirisasi ini, kami ingin memastikan hasil produksi petani terserap secara berkelanjutan. Ini penting untuk menjaga stabilitas ekosistem sawit nasional,” ujar dia. PalmCo optimistis, dengan integrasi dari hulu hingga hilir serta dukungan kebijakan nasional, proyek ini akan menjadi tonggak penting dalam mendorong transformasi industri sawit Indonesia menuju produk bernilai tambah tinggi.