JAKARTA, AW-Kementerian Pertanian (Kementan) akan terus menjaga tren kenaikan Nilai Tukar Petani sebagai indikator kesejahteraan para petani Indonesia. Kesejahteraan petani di Indonesia yang tercermin dari peningkatan angka Nilai Tukar Petani, yang disingkat NTP, merupakan jembatan menuju kedaulatan pangan nasional.

Kementan menyambut baik capaian sektor pertanian yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) yakni NTP Agustus yang meningkat menjadi 123,57. Menanggapi capaian tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan optimisme bahwa tren positif itu menjadi sinyal kuat bagi ketahanan pangan nasional.

Peningkatan NTP menjadi bukti bahwa petani Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga kian percaya diri menghadapi musim tanam berikutnya. “Kami akan terus menjaga tren positif ini. Inilah misi besar Kementan untuk mewujudkan kedaulatan pangan sekaligus meningkatkan kualitas hidup petani Indonesia,” tandas Mentan dalam publikasi yang dikutip Selasa (02/09/2025).

Mentan mengatakan, kenaikan NTP Agustus 2025 menunjukkan bahwa daya beli petani terus membaik. Angka tersebut menandakan petani memiliki surplus, yang mana nilai produksi yang diterima lebih besar dibanding biaya yang dikeluarkan. Keberhasilan itu tidak terlepas dari kerja bersama antara pemerintah, petani, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Program-program strategis Kementan mulai dari percepatan tanam dan panen raya di berbagai daerah, penyediaan pupuk bersubsidi, penguatan akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga pemanfaatan benih unggul dan mekanisasi pertanian menjadi faktor pendorong meningkatnya produktivitas sekaligus daya saing petani.

Dengan NTP yang terus menguat, petani tidak hanya berperan sebagai produsen pangan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi nasional. “Kementan akan terus memastikan setiap rupiah hasil panen yang diterima petani memberikan nilai tambah nyata bagi kesejahteraan mereka,” tandas Mentan Amran.

Sebelumnya, BPS melaporkan, NTP Agustus 2025 menembus 123,57 dan itu merupakan sinyal positif bagi petani Indonesia. NTP Agustus 2025 sebesar 123,57 itu naik 0,76% dibanding Juli sebesar 122,64. Peningkatan ini tidak hanya menjadi sinyal positif bagi kesejahteraan petani melalui peningkatan daya beli, tetapi juga memperkuat optimisme terhadap stabilitas pangan nasional.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan, kenaikan NTP didorong oleh meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 0,84%, lebih tinggi dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang hanya 0,08%.

Adapun komoditas utama penyumbang meningkatnya indeks harga yang diterima petani adalah gabah, kelapa sawit, jagung, dan bawang merah. Jika dilihat lebih jauh, subsektor tanaman pangan menjadi subsektor yang memiliki kenaikan NTP tertinggi 2,4%, selanjutnya subsektor tanaman perkebunan rakyat naik 1,24%, dan subsektor perikanan yang naik 0,78%.

“NTP menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi,” ujarnya dalam konferensi pers pada 1 September 2025. Selain itu, dari 38 provinsi, sebanyak 26 provinsi mengalami kenaikan NTP. Provinsi Bengkulu mencatat kenaikan tertinggi 3,89%, terutama karena subsektor perkebunan rakyat, khususnya komoditas sawit yang naik 7,29%.