JAKARTA, AW–Pemerintah tengah mengupayakan ekspansi lahan atau ekstensifikasi perkebunan tebu minimal 500 ribu hektare (ha) demi mewujudkan swasembada gula konsumsi di 2028 dan industri pada 2030. Perluasan lahan baru tebu seluas 200 ribu ha akan diusahakan Kementerian Pertanian (Kementan) bersama PTPN. Total anggaran peningkatan produksi dalam rangka swasembada gula nasional melalui PTPN butuh Rp 10-40 triliun.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menuturkan, pemerintah akan membenahi tata kelola tebu nasional guna memenuhi target swasembada gula lebih cepat. Pengembangan tebu akan difokuskan pada dua strategi utama, yakni ekstensifikasi dan intensifikasi.

Untuk ekstensifikasi, pemerintah telah menargetkan perluasan lahan tebu baru hingga 200 ribu ha lewat kolaborasi dengan PTPN sebagai bagian dari total 500 ribu ha lahan yang sedang diupayakan. “Ini bukan target maksimal (lahan), ini target minimal. Bisa mulai disiapkan tahun ini dan diselesaikan paling lambat tiga tahun. Anggaran gula kalau untuk PTPN diperkirakan Rp 10-40 triliun,” jelas Mentan.

Sedangkan intensifikasi mencakup perbaikan irigasi, penggunaan benih unggul, pengolahan tanah yang efisien, serta penanganan serius kondisi ratoon. “Bayangkan, 86% ratoon kita sudah tiga ke atas, berarti sudah rusak. Kita harus selesaikan ini dalam waktu singkat. Paling lambat tiga tahun kita harus bongkar ratoon seluruhnya, tidak ada pilihan,” ujar Mentan saat Rakor Pengembangan Tebu di Kantor PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), bagian dari PTPN, di Surabaya, Jawa Timur, pada 11 Juni 2025. Jawa Timur adalah penghasil tebu terbesar di RI.

Guna mendukung intensifikasi, pemerintah siap memberikan bantuan pupuk bersubsidi, perbaikan infrastruktur pertanian, dan benih berkualitas melalui sinergi dengan BUMN seperti PTPN. Mentan juga mendorong seluruh pemangku kepentingan sektor perkebunan tebu bergerak eksponensial dalam meningkatkan produksi gula Indonesia. “Kita harus bergerak eksponensial. Seperti yang sudah terjadi di sektor pangan, stok beras dan jagung kita saat ini tertinggi sepanjang sejarah kemerdekaan, sekarang giliran tebu kita benahi,” papar Mentan.

Penyederhanaan Regulasi

Mentan juga menyoroti sejumlah regulasi yang perlu disederhanakan agar tidak menghambat para petani dan pelaku industri. Salah satunya, sistem akumulasi pada Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dinilai justru menyulitkan petani untuk kembali mengakses pembiayaan. “KUR itu harus disesuaikan. Kalau petani bayar lancar tiap tahun, kenapa tidak bisa ambil lagi? Harusnya tiap tahun bisa diakses tanpa akumulasi yang menghambat, karena saat ini setelah Rp 500 juta, enggak bisa ngambil lagi, akumulasi. Ini menghambat,” papar Amran.

Saat ini, Kementan fokus untuk percepatan swasembada gula dengan target gula konsumsi selambatnya dapat dicapai 2028 dan gula industri 2030. Dengan melihat tren saat ini, Mentan Amran optimistis swasembada gula dapat terwujud lebih cepat dari target yang ditetapkan.

Produksi gula dalam negeri saat ini terus naik. Produksi nasional 2025 diperkirakan 2,9 juta ton, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi itu terbilang positif mengingat ketidakpastian iklim global sekarang ini. “Diperkirakan produksi (gula) tahun ini 2,9 juta ton, itu tertinggi. Kita optimistis swasembada gula segera tercapai,” jelas dia.

Di 2024, produksi gula RI mencapai 2,46 juta ton, naik 8,57% dari 2023 yang sebesar 2,27 juta ton. Berdasarkan perkiraan awal 2025, produksi gula tahun ini 2.901.000 ton. “White sugar kita sudah hampir mencukupi kebutuhan domestik. Artinya, kita sedang menuju swasembada, kita mau bukan hanya gula konsumsi, tapi juga industri,” tandas Mentan.