JAKARTA, AW–Pemerintah bersama Perum Bulog terus konsisten menjalankan penguatan stok cadangan beras pemerintah (CBP) dengan menyerap hasil panen petani dalam negeri. Laju realisasi serapan setara beras produksi domestik selama kuartal I-2026 pun telah melampaui capaian tahun lalu. Karena itu, sebagai ancang-ancang stok CBP tembus 5 juta ton, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mempertajam regulasi penyelenggaraan CBP.

Dalam mendukung CBP yang mengutamakan pasokan dari produksi beras lokal, Bapanas telah merilis Peraturan Bapanas No 02 Tahun 2026. Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman, yang juga Menteri Pertanian (Mentan), memprediksikan, sampai minggu ini stok CBP total dapat mencapai 4 juta ton, bulan depan diperkirakan terus meninggi hingga 5 juta ton, ini akumulasi dari realisasi serapan setara beras yang gencar dilaksanakan Bulog.

Eskalasi stok CBP di awal 2026 ini menunjukkan progresivitas antara produksi bulanan beras nasional dengan penyerapan setara beras yang dilakukan Bulog. Torehan realisasinya sampai 11 Maret 2026 bahkan telah melampaui realisasi pengadaan setara beras produksi dalam negeri pada kuartal I-2025. “Stok (CBP) kita hari ini 3,9 juta ton, minggu ini insyaallah 4 juta ton, dan satu bulan ke depan 5 juta ton. Ini belum pernah terjadi selama sejarah RI. Insyaallah bulan 4, 5, 6 (April, Mei, Juni), itu bisa 6 juta ton. (Di April) 5,2 juta ton, (itu) estimasi bulan depan,” ungkap Mentan saat memberi taklimat dalam Rakor Ketersediaan Pangan pada 11 Maret 2026.

Seiring dengan itu, dalam beleid Peraturan Bapanas No 02 Tahun 2026 telah dipertajam beberapa poin penting untuk menjadikan stok CBP yang semakin baik, mulai dari penyerapan sampai penyaluran. Dalam publikasi yang dikutip Jumat (13/03/2026) disebutkan, Peraturan Bapanas No 02 Tahun 2026 telah mempertegas pengadaan CBP melalui pembelian gabah atau beras berupa gabah kering panen (GKP), gabah kering giling (GKG), beras medium, dan beras premium.

Secara rinci, untuk kualifikasi GKP lebih ditekankan merupakan gabah yang telah memasuki usia panen di tingkat petani dan GKG merupakan GKP yang telah diolah di tingkat petani atau penggilingan. GKP dapat diolah menjadi GKG, beras medium, dan beras premium. Pengadaan diutamakan dengan melakukan pembelian produksi lokal.

Bulog diminta menggunakan instrumen harga pembelian pemerintah (HPP). Apabila rerata harga tingkat produsen di daerah setempat di bawah HPP, Bulog wajib membeli dengan tetap mengacu HPP. Jika rerata harga produsen di atas HPP, dapat diberikan fleksibilitas HPP untuk Bulog dalam jangka waktu tertentu.

Bapanas turut menekankan agar penyaluran CBP yang dilaksanakan Bulog melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dapat dilaksanakan sepanjang tahun. Namun dikecualikan pada wilayah sentra produsen padi yang sedang terdapat panen raya.

Realisasi Pengadaan CBP

Dalam catatan Bapanas, realisasi pengadaan beras dalam negeri per 11 Maret 2026 mencapai 928.200 ton, telah bertambah 208.800 ton dibandingkan realisasi Januari-Maret 2025 yang kala itu 719.300 ton. Kendati demikian, Bapanas pastikan serapan CBP selama Maret ini terus melejit menimbang panen raya padi diproyeksikan terjadi bulan ini.

“Ini kerja keras kita semua yang membuahkan hasil di bawah gagasan besar Bapak Presiden. Bapak Presiden kita luar biasa, menggerakkan ekonomi rakyat. Capaian kita alhamdulillah, luar biasa. Kita sudah mulai ekspor ke negara lain dan insyaallah mudah-mudahan tiga negara menyusul, kita ekspor ke negara tetangga,” ujar Mentan.

Adapun upaya serius pemerintah dalam menjaga kepentingan petani padi selama ini dapat terlihat pada perkembangan indeks harga yang diterima petani padi sebagaimana disadur dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Indeks terakhir pada Februari 2026 di 144,84. Indeks harga ini masih lebih tinggi dari Januari 2026 di 144,72.

Puncak indeks harga yang diterima petani padi dalam tujuh tahun terakhir ada di September 2025 sebesar 146,28. Indeks itu telah jauh melampaui titik kulminasi tahunan mulai 2019 yang ada di Desember 2019 di 109,22, Maret 2020 di 108,82, Januari 2021 di 108,19, Desember 2022 di 118,65, dan Desember 2023 di 137,75. Indeks tertinggi di 2024 ada di Februari 146,08.