JAKARTA, AW-Kementerian Pertanian (Kementan) terus mengawal proses regenerasi pertanian di Indonesia dengan memberi ruang lebih besar bagi para petani milenial. Dengan regenerasi pertanian, pembangunana nasional dapat berjalan dengan baik. Saat ini, setidaknya terdapat 300 ribu petani milenial yang sudah meraih omzet usaha Rp 5-10 miliar per tahun.
Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, regenerasi petani merupakan sebuah keharusan. Karena itu, Kementan berkomitmen untuk terus membina, memfasilitasi, sekaligus membuka ruang inovasi bagi petani muda.
Saat ini, sudah ada sekitar 300 ribu petani muda di Indonesia yang mulai menunjukkan peran signifikan. “Petani milenial, pemuda-pemuda, ini membanggakan. Sekarang jumlahnya sudah ada 300 ribu. Yang menarik, ada omzet yang sampai Rp 10 miliar per tahun. Ada juga yang Rp 5 miliar per tahun. Ini harus kita kawal, kita bina, karena mereka inilah yang menggerakkan ekonomi kerakyatan di daerah,” tegas Mentan Amran.
Anak muda kini bukan lagi sekadar penonton dalam pembangunan pertanian nasional. Di tangan generasi muda, pertanian diyakini bisa bertransformasi menjadi sektor yang lebih modern, produktif, dan berdaya saing. Karena itu, lanjut Mentan, bonus demografi yang dimiliki Indonesia adalah peluang emas untuk mempercepat transformasi pertanian. Dengan inovasi dan digitalisasi, generasi muda dapat menjadi motor penggerak lahirnya pertanian maju, berkelanjutan, sekaligus bernilai ekonomi tinggi.
Semangat Kementan dalam mengawal regenerasi pertanian tersebut juga tercermin dalam Tani on Stage (TOS), sebuah talkshow interaktif yang mempertemukan gagasan kebijakan, inovasi teknologi, dan antusiasme mahasiswa terhadap masa depan pertanian. TOS mengusung tema Peran Anak Muda untuk Ketahanan Pangan Bangsa. Kegiatan itu digelar di Graha Widya Wisuda di IPB University pada 26 Agustus 2025 dengan diikuti lebih dari 250 peserta.
Dalam dialog utama, Dekan Fakultas Pertanian IPB University Suryo Wiyono menegaskan, pertanian modern membutuhkan tiga pilar utama yakni, teknologi, jaringan, dan pendanaan. Ia memperkenalkan program studi baru Smart Agriculture yang disiapkan untuk melahirkan lulusan yang mampu menguasai smart technology dan precision farming. “Pertanian jangan hanya dipahami sebatas bercocok tanam. Pertanian mencakup produksi, perencanaan, pembiayaan, distribusi hingga pemasaran. Kata kuncinya adalah inovasi,” ujar Suryo.
Antusiasme mahasiswa semakin terasa lewat diskusi interaktif. Berbagai pertanyaan seputar mekanisasi, keberlanjutan ekologis, hingga peluang agribisnis dijawab lugas oleh Suryo. Ia menegaskan bahwa pertanian modern justru harus selaras dengan prinsip ramah lingkungan. Selain itu, mahasiswa juga diajak melihat peluang luas di sektor agribisnis, mulai dari smart farming, urban farming, industri benih, jasa alsintan, hingga digital marketing.
Dalam publikasi yang dikutip Kamis (04/09/2025) disebutkan juga, sejumlah karya inovasi mahasiswa, seperti media tanam hidroponik berbasis mikroba hingga aplikasi peramalan cuaca otomatis, menjadi bukti bahwa generasi muda mampu menghadirkan solusi nyata bagi ketahanan pangan.
Kegiatan TOS ini terselenggara berkat kolaborasi Kementan, IPB University, serta komunitas pemuda dan pelaku usaha agritech. Dengan kemasan ringan dan inspiratif, acara menghadirkan dialog, testimoni petani muda, hingga demo inovasi pertanian modern. Hadirnya TOS di kampus IPB menegaskan bahwa pertanian bukan sektor usang, melainkan ruang terbuka bagi anak muda untuk berkreasi. Semangat mahasiswa yang memenuhi Graha Widya Wisuda menghadirkan optimisme baru, yakni masa depan ketahanan pangan Indonesia ada di tangan generasi muda.
