JAKARTA, AW-Para petani di daerah sentra produksi tetap menikmati harga gabah yang baik saat musim panen gadu 2025 menggeliat. Di Jember, Jawa Timur, misalnya, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani naik signifikan, meski memasuki musim panen gadu. Harga GKP di Jember kini masih tinggi mencapai Rp 7.000-Rp 7.300 per kilogram (kg). Bahkan di beberapa tempat bisa menyentuh hampir Rp 8.000 per kg, angka yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Musim tanam gadu tahun 2025 mulai memasuki fase panen di berbagai daerah Indonesia. Suasana penuh harapan terlihat di hamparan sawah yang mulai menguning, menandai hasil kerja keras petani sepanjang musim. Di Kabupaten Cilacap, panen kali ini disambut dengan optimisme, salah satunya oleh Sutiman (43), petani asal Desa Kalikudi, Kecamatan Adipala. Dengan lahan garapan 2 hektare (ha), Sutiman menanam varietas padi Logawa. Dari hasil panennya, Sutiman mampu memperoleh produksi sekitar 14 ton gabah.

Gabah itu kemudian dijual Rp 6.500 per kg, harga yang dinilainya cukup baik dibanding beberapa musim sebelumnya. Setelah dikurangi biaya modal dan operasional, Sutiman mencatat keuntungan bersih Rp 15 juta dalam satu musim tanam. “Alhamdulillah, panen kali ini lebih baik dari sebelumnya. Harga gabah stabil, bahkan cenderung naik, sehingga keuntungan yang kami dapatkan juga lumayan. Ini membuat kami petani lebih tenang dalam bekerja,” tutur Sutiman.

Tak hanya mengandalkan usaha pribadi, Sutiman mengakui bahwa keberhasilannya tidak lepas dari dukungan pemerintah. Berbagai bantuan telah diterimanya, mulai dari benih, alat pertanian seperti kultivator, hingga dukungan pompa irigasi untuk mengantisipasi kekeringan. Semua itu sangat membantu menekan biaya produksi dan memastikan keberlangsungan usaha tani.

“Kami merasa lebih diperhatikan sejak adanya kebijakan dari pemerintah di bawah kepemimpinan Pak Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Dari kemudahan mendapatkan pupuk, adanya program pompanisasi, sampai harga gabah yang berpihak ke petani, semua itu membuat kami semakin yakin bahwa petani tidak dibiarkan berjalan sendiri,” tutur Sutiman.

Di tingkat nasional, gambaran ketersediaan beras juga cukup menggembirakan. Pada Agustus saja, potensi panen diperkirakan sekitar 3 juta ton beras, lebih tinggi dibanding kebutuhan konsumsi rata-rata bulanan masyarakat Indonesia 2,6 juta ton. Dengan demikian, stok beras nasional tetap dalam kondisi aman, bahkan berlebih, yang sekaligus memberi ruang bagi pemerintah untuk memperkuat cadangan pangan. Mentan Amran berulang kali menegaskan bahwa pemerintah terus berpihak pada petani.

Sejumlah program dan kebijakan dirancang bukan hanya untuk menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga untuk memastikan kesejahteraan petani sebagai ujung tombak ketahanan pangan. “Kebijakan ini merupakan wujud nyata keberpihakan Presiden terhadap kesejahteraan petani Indonesia. Dengan langkah-langkah yang berpihak kepada petani, kita optimistis swasembada pangan dapat terwujud sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Mentan Amran dalam beberapa kesempatan.

Kebijakan tersebut antara lain penetapan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah yang menguntungkan, penyediaan pupuk bersubsidi yang lebih mudah diakses, hingga program pompanisasi yang memungkinkan petani tetap menanam di musim kemarau. “Dukungan ini tidak hanya menjaga produktivitas, tetapi juga memberi kepastian usaha bagi petani,” jelas Mentan dalam publikasi yang dikutip Kamis (21/08/2025).

Harga di Daerah Lain

Sementara itu, panen juga terjadi di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Berdasarkan data sementara, luas panen diperkirakan 24 ribu ha, meningkat dibandingkan Juli. Selain itu, harga gabah di tingkat petani juga terjaga dan terbilang menguntungkan para petani. “Kalau perkiraan Agustus sampai akhir ini, diperkirakan meningkat menjadi 24.071 ha. Kalau Juli 14.943 ha. Untuk harga sudah di atas HPP, bahkan sudah di atas Rp 7000. Ini menguntungkan untuk petani”, ujar Luhur Prayogo Kabid Tanaman Pangan Kabupaten Jember.

Wilayah panen tersebar hampir merata di seluruh kecamatan di Jember. Dari 31 kecamatan, sekitar 25 kecamatan tercatat sedang mengalami masa panen, dengan konsentrasi tertinggi di wilayah utara dan tengah kabupaten Jember. “Karena ada yang sebagian ada yang IP1, ada juga yang IP3. Jadi setiap kejamatan insyaallah ada. Itu dari 31 kejamatan kurang lebih panen ada di 25 kecamatan,” kata dia. Solehudin, salah satu petani dan pengurus kelompok tani di Desa Gambirono, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, mengatakan, harga di wilayahnya sekaran Rp 7.300 per kg. “Panen kita bisa dapat 5 ton per ha. Biasanya harga tertinggi hanya Rp 6.000–6.500 per kg, sekarang Rp 7.300 per kg,” terang Solehudin.

Bergeser ke Sumatra, beberapa kecamatan di Lampung Timur sudah lebih dulu menyelesaikan panen, seperti Pekalongan dan Batanghari. Wilayah lain seperti Kecamatan Purbalingga kini tengah memasuki masa panen. Lasno, petani padi asal Desa Sumbersari, Kecamatan Sekampung, mengaku bersyukur dengan hasil panen yang didapatkan. “Alhamdulillah, sekarang sudah mulai panen lagi. Saya pribadi sudah panen awal Agustus kemarin. Hasilnya bagus panen gadu, lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Itu sudah cukup baik dan kami merasa diuntungkan,” ujae dia.

Lasno berterima kasih ke Mentan Amran atas berbagai kebijakan yang memudahkan petani. Pupuk misalnya, kini lebih mudah diakses hanya dengan KTP, jaringan irigasi semakin baik, dan harga gabah di tingkat petani cukup menguntungkan. “Harapan kami sederhana, pupuk tetap tersedia, irigasi semakin baik, dan harga gabah stabil di tingkat petani. Dengan begitu, kami bisa lebih semangat menanam,” jelas dia.