JAKARTA, AW-Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong panen padi dua tahun tujuh kali guna memperkuat ketahanan pangan nasional. Kementan dalam rangka penguatan ketahanan pangan akan terus hadir mendukung petani dengan membantu sarana produksi pertanian berupa alat dan mesin pertanian (alsintan) modern, di antaranya combine harvester.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono dalam kunjungan kerja ke Desa Kendal, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada 18 Juni 2025, dalam rangka panen padi bersama para petani setempat, mengapresiasi intensitas tanam di wilayah Ngawi yang telah mencapai Indeks Pertanaman (IP) 2,8 atau nyaris tiga kali tanam dalam setahun. Wamentan mendorong agar semangat tersebut terus ditingkatkan demi mendukung ketahanan pangan nasional dan peningkatan kesejahteraan petani.
Panen oleh Wamentan dilakukan menggunakan alsintan modern, yakni combine harvester. Panen dengan alsintan modern ini sebagai bagian dari upaya percepatan tanam dan peningkatan produktivitas pangan nasional. “Kita bawa combine harvester masuk desa untuk bikin petani Ngawi bisa panen kilat. Ngawi ini luar biasa, hampir tiga kali panen dalam setahun. Semangat ini harus kita dorong agar bisa lebih produktif lagi. Kalau bisa dalam dua tahun mencapai tujuh kali panen, tentu dampaknya sangat besar bagi kesejahteraan petani,” ujar Wamentan.
Tak hanya melakukan panen, Wamentan Sudaryono juga menyerahkan sejumlah bantuan sarana produksi pertanian untuk mendukung peningkatan produktivitas. Kementan akan terus hadir memberikan dukungan, termasuk mendorong akses kredit alsintan bagi petani dan kelompok tani yang belum mendapatkan bantuan langsung.
“Kami akan upayakan bantuan sebanyak mungkin. Tapi kalau belum semua bisa dibantu dengan alsintan, kita dorong skema kredit alsintan. Bisa diajukan ke pemerintah, nanti bunganya disubsidi. Ini penting karena panen manual justru sering kali lebih mahal dan lambat,” ungkap Wamentan dalam publikasi yang dikutip Kamis (19/06/2025).
Wamentan menyampaikan, pembangunan pertanian adalah program lintas partai dan lintas daerah. Wamentan mengapresiasi kekompakan para kepala daerah, termasuk Bupati Ngawi, yang mendukung penuh program ketahanan pangan nasional. “Semua kepala daerah, dari partai mana pun, punya semangat yang sama, membela rakyat. Tidak ada yang menolak program pertanian. Ini semangat kolaboratif yang luar biasa dan harus terus kita jaga,” jelas Wamentan.
Percepatan Panen
Di sisi lain, Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono turut menyampaikan bahwa produktivitas petani di wilayahnya masih sangat bisa ditingkatkan. Dukungan pemerintah pusat sangat diperlukan untuk mengatasi tantangan di lapangan, terutama persoalan pengairan dan percepatan panen. “Produktivitas di Ngawi ini masih bisa dipacu lagi. Intinya, semakin tinggi produktivitas, tentu kesejahteraan petani juga naik. Maka, sinergi Kementan, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah sangat penting untuk menjawab berbagai kendala di lapangan,” ungkap Bupati Ngawi.
Bupati Ngawi juga menjelaskan, salah satu tantangan utama di wilayah Ngawi, khususnya daerah pegunungan, adalah pengairan. Sejumlah langkah telah diambil, termasuk penggunaan alat untuk mengoptimalkan sumber air dari mata air di wilayah utara. “Kendala pengairan kami atasi dengan sumber air dalam. Beberapa titik sudah menggunakan submersible pump sehingga manajemen air bisa lebih terkendali. Untuk mempercepat tanam, panennya juga harus cepat. Maka sudah menjadi keniscayaan panen dilakukan pakai combine harvester,” jelasnya.
Dia menambahkan, permintaan combine harvester dari berbagai kelompok tani di Kabupaten Ngawi terus meningkat. Karena itu, Pemkab Ngawi menyambut baik skema kredit alsintan yang digagas Kementan agar petani semakin mandiri dalam pengadaan alat mesin. “Teman-teman kelompok tani juga sudah banyak yang mengajukan permintaan combine harvester ke pemerintah. Kami berharap ke depan makin banyak kelompok tani yang mandiri dalam pengelolaan alsintan, baik lewat bantuan maupun lewat kredit,” tutur Bupati Ngawi.
