JAKARTA, AW–Pemerintah memastikan stok pangan aman menjelang Lebaran 2026. Posisi aman stok pangan tercermin dari cadangan beras pemerintah (CBP) di gudang Perum bulog yang per 19 Maret 2026 mencapai 4,09 juta ton. Harga pangan mendekati Lebaran 2026 juga relatif terkendali, penegakan harga eceran tertinggi (HET) dilakukan intensif di lapangan.
Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memastikan stok pangan atau ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman dan harga tetap terkendali menjelang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri 1447 Hijriah (Lebaran 2026). Seluruh komoditas pangan strategis, mulai dari beras, jagung, kedelai, bawang, cabai, daging, telur, gula, hingga minyak goreng, dalam kondisi aman.
Indikator keamanan pangan tersebut mencakup kecukupan pasokan serta stabilitas harga di tingkat konsumen. “Aman itu seperti apa? Aman itu dua. Yang pertama, pasokannya cukup. Yang kedua, kita mengupayakan dan menjaga agar harga pasokannya cukup dan harganya sesuai HET, terkendali dan terjangkau bagi masyarakat,” kata Wamentan.
Wamentan menyampaikan hal itu dalam Konferensi Pers Kesiapan Infrastruktur dan Pangan di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 18 Maret 2026. Dalam kesempatan itu, khusus untuk beras, kata Wamentan, posisi CBP di gudang Bulog saat ini telah lebih dari 4 juta ton. Selain itu, beras yang beredar di masyarakat diperkirakan hampir 12 juta ton serta potensi panen dalam waktu dekat sekitar 12 juta ton. Secara total, kekuatan stok beras nasional mencapai sekitar 28 juta ton setara ketahanan pangan hingga 11 bulan ke depan.
Dengan perkiraan itu, Wamentan mengatakan, kondisi pangan nasional khususnya beras sangatlah kuat. Dalam waktu dekat, CBP yang disimpan di Bulog sampai 6 juta ton. “Kami sampaikan, khusus beras, saat ini CBP di gudang Bulog 4,09 juta ton. Saya kira nanti ini proyeksinya sampai 6 juta ton bisa disimpan di gudang Bulog. Beras yang beredar di masyarakat saat ini sekitar 11 juta ton, hampir 12 juta ton, dan proyeksi standing crop minggu-minggu ke depan akan panen juga sekitar ada 12 juta ton, sehingga kalau di total ada 28 juta ton,” ujar dia.
Dalam publikasi yang dikutip Kamis (19/03/2026) disebutkan, di sisi produksi, kinerja sektor pertanian juga menunjukkan tren positif. Produksi beras nasional pada 2025 tercatat meningkat sekitar 13% dibandingkan tahun sebelumnya, memperkuat upaya swasembada beras nasional.
Pemerintah juga terus mendorong peningkatan produksi tahun ini melalui mekanisasi pertanian, optimalisasi indeks pertanaman, serta percepatan revitalisasi irigasi untuk menjaga keberlanjutan produksi di tengah tantangan iklim. “Irigasi menjadi kunci karena air tidak bisa diciptakan. Dengan perbaikan irigasi, lahan yang sama bisa ditanami lebih sering sehingga produksi meningkat,” papar Wamentan.
Harga Terkendali
Sementara itu, untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah melakukan pengawasan menyeluruh dari hulu hingga hilir, mulai dari sentra produksi hingga distribusi ke pasar. Pengawasan ini diperkuat melalui sinergi lintas lembaga bersama Satgas Pangan dan aparat penegak hukum guna mencegah praktik penimbunan dan permainan harga, khususnya pada momen Ramadan dan Idulfitri (Puasa dan Lebaran).
“Kalau ada harga kok di atas HET, di atas ketentuan, maka trace-nya ketahuan, siapa yang menaikkan harga yang tidak sesuai dengan aturan. Ancamannya, ancaman administratif bisa dicabut izin usahanya, atau manakala ada unsur kesengajaan dan ditemukan unsur pidana, kami tidak bisa mengatakan tidak untuk tidak diusut secara pidana,” ujar Wamentan.
Dalam pengelolaan harga, pemerintah menekankan pentingnya keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen. Harga yang terlalu tinggi akan membebani masyarakat, sementara harga yang terlalu rendah juga merugikan petani dan peternak. “Harga komoditas itu pasti ada kenaikan, ada penurunan. Yang penting itu kalau naik, jangan lama-lama naiknya harus segera turun,” jelas Wamentan.
Terkait pengawasan di lapangan, hingga saat ini sebanyak 89 distributor telah mendapatkan teguran dan langsung melakukan perbaikan, sehingga belum ditemukan pelanggaran yang berlanjut ke proses pidana selama periode Ramadan tahun ini.
Selain menjaga stabilitas dalam negeri, pemerintah juga mulai mendorong ekspor beras secara selektif. Sebanyak 2.000 ton beras telah direalisasikan untuk kebutuhan jamaah haji dan umrah di Arab Saudi, serta membuka peluang ekspor ke negara lain seperti Papua Nugini dan Malaysia. “Kalau tahun lalu surplus tapi belum ekspor, tahun ini kita arahkan untuk ekspor. Ini menunjukkan produksi kita semakin kuat,” jelas Wamentan.
Menghadapi momentum hari besar keagamaan nasional, Kementan bersama Badan Pangan Nasional memastikan pasokan tetap terjaga dan harga stabil melalui percepatan distribusi serta penguatan pengawasan di lapangan. “Harga boleh naik turun, tapi jangan lama-lama. Itu yang kita jaga. Negara tidak hanya menjadi wasit, tapi juga ikut melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas,” kata Wamentan.
Sebagai penutup, Wamentan Sudaryono mengajak masyarakat untuk aktif melaporkan apabila menemukan harga pangan yang tidak wajar. “Silakan laporkan jika ada harga yang tidak sesuai. Bisa melalui berbagai kanal, termasuk media sosial. Tugas kami adalah mencari masalah, menemukan solusi, dan menyelesaikannya,” tandas dia.
