JAKARTA, AW–Ekspor minyak sawit Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$35,87 miliar (sekitar Rp590 triliun), atau lebih tinggi 29,23% dari 2024 sebesar US$27,76 miliar (sekitar Rp 440 triliun). Peningkatan ekspor minyak sawit nasional itu antara lain didorong oleh kenaikan harga CPO (minyak sawit mentah/crude palm oil) di pasar internasional, yakni dari US$1.084 per ton pada 2024 menjadi US$1.221 per ton di 2025.
Secara umum, kinerja industri sawit 2025 menguat karena produksi, ekspor, dan konsumsi domestik meningkat, meski stok menurun. Dalam catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), produksi CPO Indonesia di 2025 mencapai 51,66 juta ton, lebih tinggi 7,26% dibandingkan 2024 yang sekitar 48,16 juta ton.
Produksi minyak kernel (palm kernel oil/PKO) 2025 juga naik 6,41% menjadi 4,89 juta ton dari 4,59 juta ton di 2024. Dengan demikian, produksi minyak sawit Indonesia (CPO dan PKO) pada 2025 mencapai 56,55 juta ton, lebih tinggi 7,18% dari 2024 yang sebesar 52,76 juta ton.
Sementara itu, total konsumsi minyak sawit dalam negeri meningkat 3,82%, dari 23,86 juta ton di 2024 menjadi 24,77 juta ton pada 2025. Peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi untuk biodiesel yang naik menjadi 12,7 juta ton atau 10,97% dari tahun sebelumnya 11,45 juta ton. Kenaikan konsumsi biodiesel itu disebabkan peningkatan bauran dari 35% menjadi 40%.
Konsumsi minyak sawit untuk oleokimia di 2025 naik dari 2,21 juta ton menjadi 2,23 juta ton atau naik 1,22%. Namun demikian, konsumsi minyak sawit untuk pangan di 2025 malah menurun menjadi 9,83 juta ton dari 10,21 juta ton pada tahun sebelumnya atau turun 3,64%.
Sedangkan total ekspor minyak sawit Indonesia di 2025 mencapai 32,34 juta ton, lebih tinggi 9,51% dari 2024 sebesar 29,54 juta ton. Peningkatan ekspor terbesar terjadi pada minyak sawit olahan yang naik jadi 22,73 juta ton dari 20,45 juta ton pada tahun sebelumnya, diikuti olahan minyak inti sawit yang naik menjadi 1,56 juta ton dari 1,26 juta ton, oleokimia naik menjadi 5,08 juta ton dari 4,79 juta ton, dan CPO yang naik menjadi 2,96 juta ton dari 2,92 juta ton.
Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengatakan, menurut negara tujuannya, peningkatan ekspor minyak sawit pada 2025 dibanding tahun sebelumnya antara lain terjadi untuk tujuan Afrika (naik 991 ribu ton), China (naik 644 ribu ton), Malaysia (naik 516 ribu ton), Bangladesh (naik 503 ribu ton), dan Pakistan (naik 214 ribu ton).
Sedangkan penurunan ekspor minyak sawit di 2025 terjadi untuk tujuan pasar India (turun 859 ribu ton), Uni Eropa atau EU 27 ( turun 97 ribu ton), dan USA (turun 15 ribu ton). “Nilai ekspor minyak sawit yang dicapai di 2025 sekitar US$35,87 miliar atau setara Rp590 triliun,” jelas Mukti dalam publikasi yang dikutip Rabu (18/03/2026).
Mukti menyatakan, peningkatan nilai ekspor minyak sawit 2025 itu selain karena meningkatnya volume pengiriman juga karena harga rata-rata cif Rotterdam 2025 mencapai US$1.221 per ton atau lebih tinggi dari 2024 sebesar US$1.084 per ton. “Dengan produksi, konsumsi dan ekspor seperti dipaparkan di atas, stok akhir CPO dan PKO Indonesia di 2025 sebesar 2,07 juta ton atau lebih rendah 19,79% dari stok akhir 2024 sebesar 2,58 juta ton,” tandas dia.
