JAKARTA, AW-Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat langkah strategis untuk menaikkan nilai tambah dan dan meningkatkan kesejahteraan para petani di Indonesia melalui program hilirisasi perkebunan. Dengan menjalankan hilirisasi perkebunan, nilai jual produk di yang dihasilkan nantinya dapat naik hingga 3-5 kali lipat.
Plt Dirjen Perkebunan Kementan Abdul Roni Angkat mengatakan, langkah hilirisasi perkebunan difokuskan pada pengolahan komoditas dari hulu hingga hilir agar menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi. Selain memperkuat ekonomi desa, program ini juga membuka peluang besar bagi generasi muda untuk terjun ke dunia usaha perkebunan yang kian menjanjikan. “Melalui hilirisasi, produk perkebunan yang diolah dan dipasarkan dengan brand lokal bahkan bisa meningkatkan nilai jual hingga 3-5 kali lipat,” ungkap Roni.
Roni menekankan bahwa hilirisasi menjadi strategi nyata yang dijalankan Kementan melalui Ditjen Perkebunan untuk memperkuat rantai nilai sektor perkebunan dari hulu hingga hilir. Kementan memfokuskan hilirisasi pada tujuh komoditas strategis, yakni tebu, kelapa, kopi, kakao, jambu mete, lada, dan pala.
Pemerintah juga menyiapkan pembiayaan melalui Anggaran Biaya Tambahan (ABT), kegiatan reguler, maupun refocusing. “Dukungan ini meliputi penyediaan benih unggul, pupuk, bantuan operasional pekebun, pendampingan teknis, penguatan kelembagaan petani, hingga penyediaan sarana dan prasarana produksi,” jelas dia dalam publikasi yang dikutip Jumat (03/10/2025).
Roni optimistis, dukungan itu akan berdampak signifikan terhadap produktivitas dan kemandirian petani. Harapannya, kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian daerah terus tumbuh. “Kita tidak boleh puas hanya jadi lumbung dunia, tapi harus menjadi dapur dunia, tempat lahirnya produk olahan berkualitas tinggi. Dan kita memulainya sekarang,” tandas dia.
Selain aspek ekonomi, hilirisasi perkebunan juga diarahkan untuk mempercepat regenerasi pelaku usaha. Pemerintah mendorong lahirnya wirausaha muda lewat program petani milenial, penguatan UMKM berbasis desa, serta inkubasi bisnis perkebunan. “Kita ingin anak muda jadi CEO usaha kopi, pelaku ekspor pala, hingga inovator cokelat artisan. Hilirisasi ini peluang emas bagi generasi muda untuk terjun sebagai pengusaha sekaligus motor inovasi,” tutur Roni.
Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu produsen komoditas perkebunan terbesar di dunia. Namun, sebagian besar produk masih diekspor dalam bentuk mentah dengan nilai jual rendah. Melalui hilirisasi, pemerintah mendorong transformasi besar, seperti pengolahan kopi jadi produk specialty, kakao jadi cokelat premium, lada dan pala sebagai bumbu siap saji, hingga kelapa dan sawit sebagai bahan baku kosmetik dan bioenergi. Produk perkebunan yang diolah dan dipasarkan dengan brand lokal bahkan bisa meningkatkan nilai jual hingga 3-5 kali lipat.
Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, subsektor perkebunan memiliki potensi ekonomi luar biasa bila dikelola secara terintegrasi. “Kita tidak boleh lagi menjual bahan mentah. Saatnya petani menjadi pengusaha. Hilirisasi kopi, kakao, lada, pala, kelapa, tebu, jambu mete, sawit, hingga gambir harus kita dorong agar nilai tambahnya tinggal di desa. Dengan begitu, manfaatnya dirasakan langsung oleh petani kita, oleh bangsa kita, bukan dibawa ke luar negeri,” kata Mentan Amran.
